Equity World | Resesi Bikin Investor Waswas, Tapi Bursa RI Tetap Menarik Lho
Equity World | Pengetatan moneter global yang kompak dilakukan oleh mayoritas bank sentral berbagai negara di dunia membuat takut investor di seluruh pasar keuangan. Hal itu juga terjadi di pasar modal domestik, yang mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 1,90% sepanjang bulan September lalu.
Ketatnya kebijakan moneter merupakan langkah yang diambil untuk mengekang inflasi yang sudah lama bergerak liar dan memperlemah daya beli masyarakat. Namun, upaya intervensi artifisial dari sisi permintaan tersebut berpotensi menyebabkan resesi apabila tidak dikendalikan dengan baik. Hal tersebut merupakan ketakutan utama investor yang menjadi pendorong utama aksi jual di pasar modal belakangan ini.
Sejak tanggal 22 September atau tepat ketika The Fed menaikkan suku bunga, IHSG telah melemah 2,47%. Dalam delapan hari perdagangan terakhir, IHSG tercatat hanya mampu menguat di dua kali perdagangan, sedangkan sisanya berakhir di zona merah.
Meski demikian, secara kuartalan IHSG masih mampu mencatatkan pengembalian positif dan tetap menjadi salah satu indeks saham acuan berkinerja terbaik di dunia.
Secara umum pasar saham Asia Tenggara mengungguli sebagian besar bursa dunia lain pada kuartal ketiga, karena kondisi pandemi Covid-19 yang semakin terkendali dan pemulihan ekonomi secara lebih luas.
Sejumlah analis juga percaya bursa RI masih menawarkan peluang di tengah kenaikan suku bunga dan ketidakpastian global. Akan tetapi investor harus lebih cermat dalam memilih saham yang tidak terlalu terekspos terhadap guncangan eksternal.
Pasar saham Asia Tenggara "telah menjadi tempat di mana investor bersembunyi," tetapi sekarang ada lebih sedikit peluang, kata analis Nomura dalam sebuah catatan, dilansir The Wall Street Journal.
Analis juga ikut memberikan peringkat overweight, akan tetapi memperingatkan kinerja IHSG cukup rentan terhadap penurunan harga komoditas yang dapat melemahkan rupiah. Peringkat overweight yang diberikan analis merupakan salah satu sinyal beli karena mereka beranggapan indeks atau saham tersebut akan berkinerja lebih baik dan mengungguli pasar yang lebih luas.
IHSG sendiri merupakan indeks acuan yang berkinerja terbaik tidak hanya di Asia Tenggara, namun juga Asia Pasifik tahun ini. Sejak awal tahun hingga akhir kuartal ketiga IHSG naik 6,98%, sebagian ditopang oleh kinerja saham sektor energi yang lebih baik di tengah tingginya harga komoditas serta permintaan yang melesat pascapembukaan ekonomi yang lebih luas dan ikut diperparah oleh gangguan rantai pasokan. Sementara itu di dunia, IHSG berada di peringkat kelima hanya kalah dari Turki, Argentina, Chile dan Qatar.
Kenaikan 1,87% pada kuartal ketiga tahun ini juga menjadi yang terbaik di Asia Tenggara. Angka tersebut lebih besar dari kenaikan 1,4% di Thailand, yang indeks energi dan sektor pariwisatanya dibantu oleh kenaikan harga minyak dan gas, dan pelonggaran pembatasan perjalanan. Lalu ada pasar modal Singapura, yang indeksnya berakhir lebih tinggi 0,90%. Sementara bursa Malaysia dan Filipina masing-masing menyelesaikan kuartal ketiga dengan penurunan masing-masing 3,4% dan 6,7%.
Sementara itu secara lebih luas dari kawasan Asia Pasifik, indeks acuan Hong Kong ambles 21% pada kuartal terbaru, dengan Korea Selatan dan Jepang masing-masing turun 7,6% dan 1,7%. Adapun India menjadi pemenang terbesar di antara pasar utama di Asia, dengan kenaikan kuartalan lebih dari 8%.
Di luar Asia, S&P 500 turun 3,8% pada kuartal ketiga dan Nasdaq Composite turun 2,6%, kemudian FTSE 100 dan DAX Jerman masing-masing turun 4,0% dan 6,3%.
Meskipun secara umum pasar ekuitas terancam karena investor khawatir akan potensi resesi, bursa RI masih menjadi salah satu tujuan paling aman bagi investor yang kebingungan mencari pasar ekuitas dengan kinerja lebih baik dari pasar yang lebih luas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar