Equity World | Bursa Asia Tak Bertenaga, IHSG Jenuh Jual, Kemana Arahnya?
Equity World | Genap tiga hari beruntun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan.
Equity World | Perdagangan Pasar Asia Pasifik Mixed Menunggu Data Inflasi AS
IHSG kembali ditutup melemah pada perdagangan Rabu (12/10/2022). IHSG drop 0,43% di 6.909.21. Indeks semakin mendekati level psikologis 6.900.
Bahkan IHSG sempat keluar ke bawah 6.900 di saat perdagangan berlangsung. Tak bisa dipungkiri perdagangan kemarin cukup volatile.
Namun IHSG tak mampu bertahan dari tekanan koreksi. Statistik perdagangan mencatat ada 415 saham melemah, 144 saham menguat dan 127 saham stagnan.
Terpuruknya saham utamanya dipicu oleh isu resesi serta keputusan bank sentral Inggris (Bank of England/BoE) yang akan mengakhiri pembelian obligasi pemerintah Inggris.
Sebelumnya, BoE mengatakan akan melakukan pembelian obligasihingga 65 miliar pound (US$71 miliar) sampai dengan 14 Oktober mendatang untuk menstabilkan pasar.
BoE bahkan bilang akan memborong berapapun gilt di pasar yang diperlukan untk menenangkan pasar yang panik karena kebijakan stimulus PM Liz Truss.
Pelaku pasar Wall Street kini menunggu data inflasi AS untuk September yang akan keluar pada Kamis pekan ini.
Setelah melemah 3 hari beruntun sepanjang pekan ini, akankah IHSG rebound? Bagaimana peluangnya?
Pergerakan IHSG dianalisis berdasarkan periode waktu harian (daily) dan menggunakan indikator Boillinger Band (BB) untuk menentukan area batas atas (resistance) dan batas bawah (support).
Jika melihat level penutupan IHSG dan indikator BB kemarin, indeks masih bergerak menuju batas bawah BB terdekat di 6.902.
Pergerakan IHSG juga dilihat dengan indikator teknikal lain yaitu Relative Strength Index (RSI) yang mengukur momentum.
Perlu diketahui, RSI merupakan indikator momentum yang membandingkan antara besaran kenaikan dan penurunan harga terkini dalam suatu periode waktu.
Indikator RSI berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20.
Posisi RSI turun ke 29,77 dari sebelumnya 31,82. Indikator RSI menunjukkan bahwa IHSG sudah berada area jenuh jual sehingga berpotensi untuk berbalik arah.
Dilihat dari indikator lain yaitu Moving Average Convergence Divergence (MACD), garis EMA 12 tampak masih di bawah garis EMA 26 dan bar histogram bergerak di area negatif.
Melihat RSI yang sudah jenuh jual, IHSG berpotensi menghijau hari ini dan menguji level 6.985.
Bursa Asia-Pasifik ditutup cenderung beragam pada perdagangan Rabu (12/10/2022), di tengah makin terdengarnya isu resesi global dan investor menanti rilis data inflasi di Amerika Serikat (AS).
Indeks Shanghai Composite China ditutup melonjak 1,53% ke posisi 3.025,51, ASX 200 Australia naik tipis 0,04% ke 6.647,5, dan KOSPI Korea Selatan menguat 0,47% menjadi 2.202,47.
Sementara untuk indeks Nikkei 225 Jepang ditutup turun tipis 0,02% ke posisi 26.396,83, Hang Seng Hong Kong melemah 0,78% ke 16.701,03, Straits Times Singapura terkoreksi 0,33% ke 3.094,7, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpangkas 0,43% menjadi 6.909,21.
Dari Korea Selatan, bank sentral (Bank of Korea/BoK) kembali menaikkan suku bunga utamanya pada hari ini, guna mengatasi lonjakan inflasi dan menopang mata uang won yang jatuh.
BoK menaikkan suku bunga 7-Day Repurchase Rate (7DRR) sebesar 50 basis poin (bp) atau setengah poin persentase menjadi 3%, tertinggi sejak 2012, sekaligus melanjutkan beberapa kali kenaikan sejak tahun lalu.
Kala itu, ekonomi Negeri Ginseng mulai bangkit dari titik terendahnya akibat pandemi Covid-19.
"Tekanan inflasi tambahan dan risiko terhadap sektor valuta asing telah meningkat, dipengaruhi oleh naiknya nilai tukar won Korea terhadap dolar AS, sementara inflasi tetap tinggi," kata BoK dalam keterangannya, Rabu (12/10/2022), dikutip dari AFP.
Keputusan itu datang ketika ekonomi terbesar keempat di Asia tersebut pulih dari perlambatan yang disebabkan oleh Covid-19, dengan permintaan konsumen yang mulai naik. Namun, Korea Selatan juga masih harus berjuang dengan kenaikan harga bahan bakar dan bahan baku.
Hal ini menjadi kenaikan suku bunga untuk kelima kalinya secara beruntun, dan kembali ke laju pengetatan yang lebih cepat, setelah kenaikan seperempat poin pada Agustus lalu. Perlu diketahui, won telah berada di level terendah dalam 13 tahun.
Depresiasi won tersebut membuat inflasi lebih buruk di Korea Selatan, yang sangat bergantung pada impor energi.
Sebelumnya, inflasi Korea Selatan melonjak 5,6% pada September 2022 secara tahunan, didorong oleh percepatan biaya untuk layanan pribadi dan produk makanan olahan.
BoK mengatakan pertumbuhan ekonomi domestik diperkirakan akan melambat secara bertahap, dipengaruhi oleh perlambatan global dan kenaikan suku bunga.
"Dewan melihat kenaikan suku bunga berkelanjutan sebagai jaminan, karena inflasi diperkirakan akan tetap tinggi," tambahnya.
Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) menjadi pendorong utama bank sentral lainnya menaikkan suku bunga acuannya.
The Fed menaikkan suku bunga sebesar 75 bps pada masing-masing dari tiga pertemuan terakhirnya dan dapat membuat kenaikan suku bunga besar lainnya pada bulan November.
Di lain sisi, pasar saham global masih cenderung membentuk tren bearish karena dipicu oleh isu resesi yang semakin santer terdengar. Pelaku pasar Wall Street kini menunggu data inflasi AS dari sisi konsumen (consumer price index/CPI) periode September yang akan keluar pada Kamis pekan ini.
Hari ini, mereka akan menunggu data inflasi dari sisi produsen (producer price index/PPI), sementara pada Jumat akan ada pengumuman indeks keyakinan konsumen (IKK).
Semua data tersebut akan menjadi pegangan pasar untuk membaca arah kebijakan The Fed yang akan menggelar rapat pada 1-12 November mendatang.
"Kondisi pasar saat ini sangat menyedihkan di tengah perlambatan ekonomi, ketidakpastian laporan keuangan, serta berapa lama kebijakan ketat The Fed. Sentimen penghindaran risiko (risk averson) juga meningkat tajam," tutur chief investment officer The Bahnsen Group, David Bahnsen, kepada CNBC Internasional.
Kabar kurang menggembirakan juga datang dari Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF), di mana IMF memangkas pertumbuhan global pada 2023 menjadi 2,7% dari proyeksi di Juli sebesar 2,9%.
Namun, IMF masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan global untuk 2022 di angka 3,2%. Pertumbuhan global sudah direvisi sebanyak tiga kali yakni pada April, Juli, dan Oktober.
Pemangkasan proyeksi dilakukan menyusul masih panasnya perang Rusia-Ukraina, perlambatan ekonomi China, lonjakan harga energi dan pangan, melambungnya inflasi serta tren kenaikan suku bunga acuan global. IMF juga mengingatkan jika sepertiga perekonomian dunia akan mengalami kontraksi pada tahun depan.
"Tiga kawasan dengan perekonomian terbesar yaitu AS, China, dan Eropa akan terus melambat. Yang terburuk belumlah terjadi sekarang ini karena banyak dari warga dunia yang akan merasakan resesi pada 2023," tutur kepala ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, dalam konferensi pers, Selasa malam waktu AS.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar