Equity World | Wall Street Melonjak, Didorong Optimisme Investor Jelang Rilis Data Inflasi
Equity World | NEW YORK. Indeks utama Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (11/1). S&P 500 dan Nasdaq naik lebih dari 1% lantaran investor optimistis menjelang rilis data inflasi yang dapat memberi ruang bagi Federal Reserve untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga.
Equity World | IHSG Ambruk, Rupiah Makin Terpuruk dan Terburuk di Asia!
Berdasarkan perkiraan ekonom yang disurvei oleh Reuters, inflasi AS pada Desember 2022 sekitar 6,5% secara tahunan, atau melandai dari 7,1% pada November 2022.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 268,91 poin, atau 0,8%, ke level 33.973,01, S&P 500 naik 50,36 poin, atau 1,28% ke level 3.969,61 dan Nasdaq Composite naik 189,04 poin, atau 1,76% ke level 10.931,67.
Volume perdagangan saham di bursa As mencapai 11,42 miliar saham dengan rata-rata 11 miliar dalam 20 hari perdagangan terakhir.
Indeks benchmark naik sepanjang 2023 berjalan, setelah turun tajam tahun lalu.
Harapan bahwa Fed dapat segera menghentikan siklus kenaikan suku bunganya telah mendorong pasar dalam beberapa sesi terakhir, bahkan ketika komentar beberapa pejabat Fed telah mendukung pandangan bahwa bank sentral harus tetap agresif dalam menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi.
"Investor mengantisipasi bahwa kita lebih dekat ke jeda daripada titik lain tahun lalu," kata Jake Dollarhide, chief executive officer Longbow Asset Management di Tulsa, Oklahoma.
Ia mengatakan hal itu akan disambut baik oleh pasar.
"Setiap kali Anda mengalami penurunan tahun, tidak heran berkali-kali terjadi pembalikan pada awal tahun baru," katanya.
Pelaku pasar uang memperkirakan peluang sekitar 75% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 24 basis poin pada Februari.
Minggu ini juga menandai dimulainya musim pendapatan kuartal keempat untuk perusahaan S&P 500, dengan pendapatan S&P 500 secara keseluruhan diperkirakan menurun dari tahun ke tahun.
Bank-bank terbesar AS, yang memulai musim laporan pendapatan akhir pekan ini, diperkirakan akan melaporkan pendapatan kuartalan yang lebih rendah karena risiko kenaikan resesi karena pengetatan kebijakan moneter.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar