Equity World | Terus Tertekan, IHSG Ada Peluang Rebound Terbatas
Equity World | Bursa Wall Street melonjak naik lebih dari 2% di perdagangan akhir pekan, setelah laporan gaji di AS bulan Desember meningkat lebih dari yang diharapkan sekalipun tingkat upah tumbuh melambat dan aktivitas sektor jasa menyusut. Faktor tersebut mengurangi kekhawatiran kenaikan suku bunga The Fed secara agresif. Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan, nonfarm payrolls naik 223.000 pekerjaan pada bulan Desember. Sementara kenaikan pendapatan rata-rata 0,3% lebih kecil dari yang diharapkan dan kurang dari 0,4% dari bulan sebelumnya. Sedangkan aktivitas jasa AS turun untuk pertama kalinya dalam lebih dari 2,5 tahun pada bulan Desember karena permintaan melemah, dibarengi lebih banyak sinyal pelonggaran inflasi. Dow Jones ditutup naik 700,53 poin (+2,13%) menjadi 33.630,61, S&P 500 melonjak 86,98 poin (+2,28%) ke level 3.895,08 dan Nasdaq melesat 264,05 poin (+2,56%) ke posisi 10.569,29. Lonjakan perdagangan di akhir pekan berhasil menyokong kenaikan ketiga indeks saham utama AS, sehingga secara mingguan Dow Jones menguat +1,46%, S&P 500 meningkat +1,45% dan Nasdaq bertambah +0,98%.
Equity World | Pasar Asia-Pasifik Awal Pekan (09/10) Diperdagangkan Lebih Tinggi, Jepang Libur
Sementara dari dalam negeri, IHSG ditutup menguat 30,717 poin (+0,46%) ke level 6.684,558 di perdagangan akhir pekan. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 418 miliar di pasar regular, dan rupiah ditutup dikisaran level Rp. 15.632/USD. Penguatan di perdagangan akhir pekan tak cukup mampu mengangkat IHSG dalam sepekan. Secara mingguan, IHSG jeblok -2,4% dengan diikuti keluarnya dana asing senilai Rp 1,39 triliun di pasar reguler.
Pelemahan IHSG di pekan lalu disebabkan oleh kebijakan China yang berencana kembali mengimpor batubara dari Australia, serta hengkangnya dana asing dari pasar saham Indonesia dengan beralih ke bursa Shanghai dan Hong Kong, seiring kebijakan China yang melonggarkan kebijakan zero-Covid dan membuka perekonomiannya, sehingga membuat prospek negara tersebut lebih baik. Pasar saham di Asia Tengah seperti China, Hongkong dan Taiwan tertekan selama periode penguncian China di tahun lalu. Dan saat ini, pembukaan ekonomi negara tersebut membuat valuasi pasar saham Asia Tengah terlihat lebih murah dan menimbulkan tekanan capital outflow dari pasar Asia Tenggara termasuk Indonesia. Selain itu, melemahnya IHSG juga disebabkan karena adanya potensi resesi dan perlambatan ekonomi global. IMF memproyeksikan ekonomi dunia untuk 2023 hanya tumbuh sebesar 2,7%, dibandingkan 3,2% di 2022.
Secara teknikal, sesuai analisa pada pekan sebelumnya IHSG ternyata memilih menjalankan scenario bearish-nya setelah gagal bertahan di atas 6.785. IHSG turun tajam bahkan sempat menyentuh level terendah di 6.598. Meski ada potensi untuk mengalami teknikal rebound setelah membentuk pola candlestick piercing line untuk menguji resistance terdekat dikisaran 6.775-6800, dan resistance selanjutnya dikisaran 6.902-6.953 (apabila kenaikan berlanjut). Tapi selama belum mampu melewati 6.953, maka penguatan IHSG masih bersifat sementara dan berpeluang mengalami koreksi lagi apabila gagal bertahan di 6.641, untuk turun menuju area kisaran support kuat di 6.504-6.559. Indikator teknikal MACD yang telah death cross dan volume transaksi yang menurun, mengindikasikan bahwa IHSG bergerak di fase downtrend jangka pendek dalam momentum pergerakan yang negatif.
Minggu ini tidak ada rilis data ekonomi dari dalam negeri. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di minggu ini antara lain adalah :
- Selasa 10 Januari 2023 : Pernyataan ketua Fed Powell
- Rabu 11 Januari 2023 : Rilis data inflasi Australia
- Kamis 12 Januari 2023: Rilis data perdagangan Australia, Rilis data inflasi China, Rilis data inflasi AS
- Jumat 13 Januari 2023 : Rilis data perdagangan China, Rilis data GDP Inggris dan Jerman, Rilis data sentimen konsumen AS
Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Pasar saham Indonesia masih berada di fase downtrend dalam jangka pendek. Meski terbuka peluang untuk rebound, namun kenaikan masih bersifat terbatas terutama jika IHSG belum dapat menguat menembus ke atas 6.953, maka indeks masih berpeluang bergerak turun menguji area support kuat dikisaran 6.504-6.559. Selama bertahan diatas 6.500, IHSG masih bergerak sideways dalam jangka menengah di rentang lebar area 6.500 hingga 7.350. Namun tetap perlu waspada karena sentimen pasar masih negatif. Jika tembus ke bawah 6.500 maka IHSG akan memasuki fase bearish, untuk itu disarankan tetap hati-hati.
Selalu safe trading dan kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah kedepan. Atur strategi pembelian dan money manajemennya dengan baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar