Equityworld Futures | Sempat bergerak ke zona merah pada perdagangan sesi I, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya ditutup di zona hijau pada penutupan perdagangan Senin (2/8/2021).
Indeks saham acuan nasional tersebut ditutup menguat 0,44% ke level 6.096,54. Penguatan IHSG pun berlanjut di sesi kedua, di mana pada penutupan sesi I hari ini, IHSG menguat 0,12% ke level 6.077,12.
Data perdagangan mencatat nilai transaksi hari ini kembali turun menjadi Rp 13,4 triliun. Terpantau, investor asing kembali melakukan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp 79 miliar di pasar reguler.
Namun di pasar tunai dan negosiasi, asing tercatat menjual bersih sebanyak Rp 81 miliar. Sebanyak 243 saham menguat, 262 saham melemah dan 144 lainnya stagnan.
Investor asing melakukan pembelian bersih di saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebesar Rp 114 miliar. Selain di saham TLKM, asing juga tercatat mengoleksi saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) sebesar Rp 89 miliar.
Sedangkan penjualan bersih dilakukan asing di saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang dilepas sebesar Rp 164 miliar dan di saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 43 miliar.
MAKI Berharap DPR Bentuk Pansus Usut Kasus Impor Emas | Equityworld Futures
Pelaku pasar di Indonesia masih menanti pengumuman berlanjut atau tidaknya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 yang berakhir hari ini (2/8/2021).
Jika diperpanjang, maka aktivitas ekonomi dan bisnis masih berada dalam tren tekanan. Pasar berharap akan ada sejumlah pelonggaran di tengah landainya kasus Covid-19 di DKI Jakarta.
Di tengah penguatan IHSG yang berlanjut pada sesi kedua hari ini, beberapa data ekonomi yang dirilis pada hari ini arahnya berbeda, di mana data aktivitas manufaktur RI mengalami penurunan, sementara data inflasi RI mengalami kenaikan sedikit.
IHS Markit melaporkan aktivitas manufaktur yang dilihat dari purchasing managers' index (PMI) merosot ke level 40,1 dari sebelumnya 53,4. Ini merupakan kali pertama PMI manufaktur mengalami kontraksi setelah sebelumnya berekspansi dalam 8 bulan beruntun.
"Peningkatan kasus Covid-19 menyebabkan pemerintah harus menerapkan PPKM yang membatasi mobilitas masyarakat. Efek dari kebijakan ini terjadi di sisi permintaan, produksi, dan tenaga kerja," sebut keterangan tertulis IHS Markit.
"Gelombang serangan kedua Covid-19 telah memukul sektor manufaktur Indonesia. Selain gangguan produksi dan permintaan, dunia usaha juga mengalami hambatan dalam mendatangkan bahan baku. Ketidakpastian yang meningkat juga membuat dunia usaha untuk mengurangi pekerja dengan laju tercepat sejak Juni 2020, meski banyak yang menilai ini hanya sementara karena penerapan PPKM," sebut Jingyi Pan, Economics Associate Director di IHS Markit, seperti dikutip dari keterangan tertulis.
PMI menggunakan angka 50 sebagai titik awal. Jika di atas 50, maka dunia usaha sedang dalam fase ekspansi dan sebaliknya jika di bawah itu mengindikasikan bahwa dunia usaha sedang terkontraksi.
Sementara itu dari data inflasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi Indonesia periode Juli 2021 yang tumbuh menjadi 0,08% pada Juli 2021 dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm).
Hal Ini membuat inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) menjadi 0,81% dan terhadap Juli 2020 (year-on-year/yoy) adalah 1,52%.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar