Equity World | Wall Street Melesat Lagi, Bakal 'Nular' ke IHSG Juga?
Equity World | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menghijau pada Rabu (21/7/2021), setelah memerah pada awal pekan. Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) yang juga ditutup naik.
Ini terjadi di tengah penguatan pasar saham global dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS). Berbeda nasib, nilai tukar rupiah tercatat kembali melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) yang punya status sebagai aset aman (safe haven).
Secara rinci, IHSG mengakhiri perdagangan dengan terapresiasi 0,21% ke level 6.029,97 di tengah reli di bursa Asia serta kepastian perpanjangan PPKM Darurat oleh Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi). Data BEI mencatat, nilai transaksi kemarin, sebesar Rp 11,4 triliun, di mana investor asing membeli bersih Rp 206 miliar di pasar reguler.
Wall Street menguat dua hari berturut-turut hingga Rabu (21/7) | Equity World
Asing melakukan pembelian di saham PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp 70 miliar dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 101 miliar. Sementara, jual bersih dilakukan asing di saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang dilego Rp 45 miliar dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) yang dijual Rp 60 miliar.
Sebagaimana sudah diantisipasi pelaku pasar, Presiden JoJokowi pada Selasa malam memutuskan memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, yang sedianya berakhir pada 20 Juli menjadi 25 Juli 2021. Perpanjangan dilakukan di tengah masih tingginya penyebaran kasus Covid-19, yang masih di atas 35.000 kasus sehingga total kasus virus tersebut mencapai 2,95 juta di Tanah Air.
Namun, yang mengejutkan, presiden menyatakan pembukaan bertahap kemungkinan bisa dilakukan pada 26 Juli. Adapun per Rabu, pemerintah mengganti penggunaan istilah PPKM Darurat dengan PPKM Level 4.
"Jika tren kasus terus mengalami penurunan, maka tanggal 26 Juli 2021, pemerintah akan melakukan pembukaan bertahap," ujarnya melalui kanal Youtube.
Beralih ke rupiah, di penutupan perdagangan, mata uang Garuda merosot ke Rp 14.540/US$, atau melemah 0,17% di hadapan greenback AS. Rupiah sulit untuk menguat sebab pelaku pasar masih mengincar aset safe haven sebagai investasi.
Sebabnya, kecemasan akan terjadinya stagflasi, yakni pertumbuhan ekonomi yang merosot tetapi inflasi tinggi. Maklum saja, lonjakan kasus virus corona terjadi mulai dari Asia, Eropa, hingga ke Amerika Serikat, sehingga ada risiko pembatasan sosial kembali diketatkan, dan tentu saja berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, bank sentral di berbagai negara masih membanjiri perekonomian dengan likuiditas, sehingga berisiko memicu inflasi yang tinggi.
"Ketakutan akan stagflasi menjadi kekhawatiran utama investor ketika kasus Covid-19 melonjak dan membuat perekonomian melambat sementara inflasi tetap menanjak," kata Peter Essele, kepala manajemen investasi di Commonwealth Financial Network, sebagaimana dilansir CNBC International.
Saat itu terjadi, maka aset-aset safe haven, dolar AS salah satunya akan menjadi favorit investasi.
"Saya percaya aset safe haven pantas untuk menguat, mengingat pemulihan ekonomi global yang melambat sehingga ekspektasi pertumbuhan yang tinggi layak dipertanyakan," kata Juan Perez, ahli strategi valuta asing di Tempus Inc di Washington.
Sementara, mayoritas investor kembali memburu SBN pada Rabu, ditandai dengan pelemahan imbal hasil (yield) di hampir seluruh SBN. Hanya SBN bertenor 20 tahun yang cenderung dilepas oleh investor dan mengalami penguatan yield, yakni naik 0,9 basis poin (bp) ke level 7,109%.
Adapun, yield SBN bertenor 10 tahun dengan kode FR0087 yang merupakan yield acuan pemerintah kembali turun 1,6 bp ke level 6,327%. Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.
Dilansir data dari CNBC International, yield Treasury acuan bertenor 10 tahun naik 3,6 bp ke level 1,245% pada pukul 06:51 pagi waktu AS, dari sebelumnya pada penutupan Selasa kemarin di level 1,209%.
Imbal hasil Treasury sempat merosot pada awal pekan ini hingga mencapai level terendahnya selama lima bulan terakhir, di tengah kekhawatiran tentang penyebaran Covid-19 varian Delta yang sangat cepat dan meningkatnya inflasi AS. Menurut data Centers for Disease Control and Prevention, kasus Covid-19 di AS mencapai lebih dari 35.500 sepekan terakhir.
Dalam hal kekhawatiran seputar tekanan inflasi, Kepala Investasi, Kleinwort Hambros Fahad Kamal mengatakan kepada "Squawk Box Europe" CNBC bahwa perusahaannya tidak berpikir tekanan harga akan "tidak terkendali."
"Kami tidak berpikir akan ada sesuatu seperti inflasi satu digit, kami mencatat bahwa meskipun harga cenderung mengalami kenaikan, tetapi kami memprediksi bahwa inflasi masih bersifat moderat," katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar