| Equityworld Futures | Bursa Wall Street Babak Belur Imbas Perang Iran vs Israel, Semua Saham S&P Merah | | Equityworld Futures | Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) anjlok pada perdagangan saham Selasa (3/3). Kekhawatiran konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran mengguncang pasar | | Dow Jones Industrial Average turun 403,51 poin atau 0,83% dan ditutup di level 48.501,27. S&P 500 turun 0,94% menjadi 6.816,63, sementara Nasdaq Composite tergelincir 1,02% menjadi 22.516,69. | | Pada level terendahnya hari itu, S&P 500 anjlok 2,5% dan Nasdaq turun sekitar 2,7%. Dow Jones yang terdiri dari 30 saham sempat turun lebih dari 1.200 poin atau sekitar 2,6% pada level terendahnya. | | Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Selasa sore bahwa Angkatan Laut AS akan mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz jika diperlukan. Ia juga mengatakan apapun yang terjadi AS akan memastikan aliran energi yang bebas ke seluruh dunia. | | "Kekuatan ekonomi dan militer Amerika Serikat adalah yang terbesar di dunia, tindakan lebih lanjut akan segera dilakukan," tulis Trump dalam posting di Truth Social, dikutip CNBC International, Rabu (4/3). | | Kemudian harga minyak dunia melonjak di tengah meningkatnya ketegangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran. | | Minyak mentah Brent Crude ditutup naik 4,71% setelah sebelumnya sempat melonjak lebih dari 9% dan mencatat kenaikan sekitar 6% pada sesi Senin. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak 4,68% setelah sebelumnya menguat sekitar 6%. | | Lonjakan harga energi sempat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury karena kekhawatiran inflasi kembali meningkat, di tengah harapan investor terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Namun, imbal hasil kemudian memangkas kenaikan seiring harga minyak turun dari level tertinggi. | | Selain itu meningkatnya kekhawatiran pasar setelah komandan Garda Revolusi Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup dan Iran akan membakar kapal yang mencoba melintas. Donald Trump juga memperingatkan konflik bisa berlangsung lebih dari empat minggu. Serangan juga dilaporkan terjadi terhadap Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, sementara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memerintahkan evakuasi personel dari Bahrain, Irak, dan Yordania. | | Seiring dengan itu kelompok Hezbollah juga menyerang Tel Aviv dengan rudal dan drone. Hal itu memicu kekhawatiran negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab akan kesulitan menahan serangan Iran. | | Kepala Struktur Pasar Ekuitas AS di Liquidnet, Jeffrey O'Connor, menilai kemungkinan konflik yang berlangsung lebih lama dapat membebani pasar dalam beberapa minggu ke depan. | | Tak hanya itu, ia menyebut dengan tingginya harga minyak berpotensi maka investor harus menghadapi pergerakan inflasi, imbal hasil obligasi, serta ekspektasi pemotongan suku bunga di masa depan. Secara historis pasar AS mampu mengabaikan guncangan geopolitik, namun kondisi berbeda karena Selat Hormuz saat ini tertutup. "Mengingat sekitar 20% konsumsi minyak dunia melewati selat tersebut, penutupan terus-menerus selat tersebut tidak bisa diabaikan," ucapnya, dikutip CNBC. | | Adapun semua sektor dalam S&P 500 berada di zona merah pada Selasa. Sektor bahan baku dan industri mencatat kerugian terbesar karena kekhawatiran harga minyak yang lebih tinggi dan biaya pinjaman dapat membebani ekonomi Amerika Serikat. Beberapa saham teknologi besar seperti Nvidia yang memimpin pemulihan intraday pada Senin turut melemah. Saham memori di AS juga tertekan mengikuti penurunan signifikan saham chip memori di Korea Selatan. Sementara itu, saham Blackstone turun 3,8% setelah Financial Times melaporkan dana kredit swasta mereka mengalami arus keluar bersih sebesar US$ 1,7 miliar pada kuartal pertama. Di sisi lain, harga emas juga turun tajam setelah sebelumnya naik pada Senin. Indeks CBOE Volatility Index, yang menjadi barometer ketakutan pasar Wall Street, melonjak ke level tertinggi sejak November. | | | | |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar