Selasa, 10 Desember 2019

Equityworld Futures Jakarta SSC

Equityworld Futures Jakarta SSC


PT Equityworld | Kemesraan AS-China Mati Rasa, Harga Emas Antam kok Mendem?

Posted: 10 Dec 2019 04:17 PM PST

PT Equityworld | Kemesraan AS-China Mati Rasa, Harga Emas Antam kok Mendem?

PT Equityworld | Harga emas investasi ritel kepingan acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM/Antam) turun tipis Rp 1.000 per gram menjadi Rp 694.000/gram pada perdagangan Selasa (10/12/2019) dari Rp 695.000/gram kemarin.

Koreksi harga itu tidak sejalan dengan tensi hubungan Amerika Serikat (AS)-China yang memanas kemarin dan membuat harga emas global naik.

Penurunan harga itu terjadi setelah sehari sebelumnya koreksi signifikan kembali membawa harga emas Antam terperosok lebih dalam lagi.

Turun tipisnya harga emas Antam tersebut tidak seiring dengan kenaikan harga emas global yang terjadi kemarin. Emas global naik di tengah pemberitaan bahwa negosiasi AS-China terancam batal karena Washington tetap menginginkan adanya kenaikan tarif impor yang dijadwalkan efektif pada 15 Desember.


Di sisi lain, China masih menunjukkan harapan terkait realisasi perundingan dagang pada bulan ini hingga tarif impor baru tidak jadi dieksekusi AS. China adalah pihak yang mengeluarkan ancaman mundur dari rencana perundingan jika penghapusan kenaikan tarif impor yang sudah berlaku tidak disetujui AS, di mana China juga menginginkan pembatalan kenaikan tarif yang berencana diterapkan 15 Desember nanti.

Ancaman China itu juga terkait dengan kondisi Hong Kong yang sempat diperparah pengesahan UU HAM oleh senat AS dan Presiden AS Donald Trump, yang bertujuan membela Hong Kong dengan membatasi ekspor amunisi dan peralatan anti kerusuhan.


Data di situs logammulia milik Antam hari ini (10/12/19) menunjukkan besaran harga emas kepingan 100 gram berada pada Rp 69,4 juta/batang, dari posisi kemarin Rp 69,5 juta/batang.

Hari ini, harga beli kembali (buy back) emas Antam di gerai resmi juga turun Rp 1.000/gram menjadi Rp 658.500/gram dari Rp 659.500/gram kemarin.

Harga itu dapat menunjukkan harga beli yang harus dibayar Antam jika pemilik batang emas bersertifikat tersebut ingin menjual kembali investasinya di gerai resmi.

Harga emas Antam itu turun ketika harga emas di pasar spot global kemarin justru naik menjadi US$ 1.461,89 per troy ounce (oz) dari posisi sehari sebelumnya US$ 1.459,5/oz. Hari ini, harga emas masih naik tipis ke US$ 1.460,97/oz.

Selain emas Antam biasa, Antam juga menawarkan emas batik dan emas tematik serta menampilkan harga hariannya di situs yang sama.

Di sisi lain, Antam juga menjual emas batangan dengan dasar ukuran mulai 1 gram hingga 500 gram di berbagai gerai yang tersedia di berbagai kota, dari Medan hingga Makassar.

Harga dan ketersediaan emas di tiap gerai bisa berbeda. Harga emas tersebut sudah termasuk PPh 22 0,9%. Masyarakat bisa menyertakan NPWP untuk memperoleh potongan pajak lebih rendah yaitu 0,45%.

PT Equityworld


Harga emas naik, pedagang amati pembicaraan perdagangan, pengumuman Fed | PT Equityworld


Naik-turunnya harga emas ukuran kecil itu biasanya mengindikasikan risiko pada hari kerja sebelumnya.

Beberapa faktor yang mempengaruhi harga emas adalah nilai tukar rupiah, penawaran-permintaan, permintaan industri emas, isu global, tingkat inflasi, dan tingkat suku bunga.

Penguatan harga emas Antam biasanya mencerminkan kecenderungan masyarakat untuk memburu emas ritel ketika kondisi tidak kondusif, sehingga mencerminkan fungsi logam mulia sebagai instrumen yang dinilai lebih aman (safe haven) untuk masyarakat di dalam negeri.

Equityworld Futures | Saham Asia Lesu Jelang Tenggat Waktu Tarif Baru

Posted: 09 Dec 2019 10:59 PM PST

Equityworld Futures | Saham Asia Lesu Jelang Tenggat Waktu Tarif Baru

Equityworld Futures | Saham Asia terpantau mengalami penurunan perdagangan pada Selasa (10/12/2019), ketika para investor kembali mewaspadai katalis potensial pekan ini dari pertemuan bank sentral hingga tenggat waktu tarif impor baru.

Pada saat yang sama, tresuri dan dolar AS sedikit berubah.

Ekuitas di Tokyo dan Hong Kong mencatatkan sedikit perubahan, Seoul terlihat bergerak sedikit lebih tinggi, sedangkan Shanghai dan Sydney menjadi lebih rendah karena investor menunggu kabar apakah Washington akan melanjutkan rencana kenaikan tarif impor pada 15 Desember.

Indeks Topix mengalami perubahan tipis, indeks S&P/ASX 200 turun 0,2%, KOSPI menguat 0,2%, dan indeks Hang Seng terpantau flat.

Dengan investor yang enggan melakukan taruhan besar, indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik, di luar Jepang, menjadi 0,05% lebih rendah, dan indeks Shanghai Composite benchmark China turun 0,3%.

Di sisi lain, volume perdagangan berada di bawah rata-rata.

Dilansir melalui Bloomberg, S&P 500 berjangka bergerak datar setelah benchmark ditutup pada posisi sesi perdagangan terendah.

Minyak ikut mengalami penurunan tipis. Adapun, imbal hasil obligasi 10 tahun Jepang naik ke tingkat nol untuk pertama kalinya sejak Maret.

"Gagasan bahwa kita memiliki periode yang relatif lebih tenang dalam ketegangan perdagangan AS-China jelas sangat penting. Namun, sifatnya sementara. Ketegangan antara keduanya bersifat struktural dan persisten," kata Ben Powell, kepala ahli strategi BlackRock Investment Institute Asia-Pasifik, dikutip melalui Bloomberg, Selasa (10/12/2019).

Dengan waktu yang hampir habis bagi Amerika Serikat dan China untuk mencapai kesepakatan yang akan menangkal kenaikan tarif, pasar mencari tanda-tanda kemajuan pada masa depan.

Pertemuan para pembuat kebijakan di The Fed dan Bank Sentral Eropa juga diharapkan dapat menawarkan petunjuk apakah pelonggaran moneter lebih lanjut akan dilakukan pada 2020.


Equityworld Futures


Harga Emas LLG dan Batangan Menyusut Meski Dolar AS Miring | Equityworld Futures


Di kawasan lain, peso Meksiko menyerap keuntungan atas meningkatnya optimisme bahwa mereka semakin dekat dengan persetujuan USMCA, perjanjian perdagangan trilateral untuk menggantikan Nafta.

The Fed akan memutuskan kebijakan suku bunga pada Rabu (11/12/2019), waktu Washington, yang diikuti oleh pidato Gubernur Jerome Powell. ECB akan menyampaikan kebijakannya pada Kamis (12/12/2019), bersamaan dengan agenda pemilu di Inggris.

Pada agenda lain, China akan melaporkan inflasinya pada hari ini, sedangkan data pertumbuhan kredit akan dirilis beberapa pekan mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar